Essay, Journal, Book, Movie
  • Home
  • Artikel
  • Cerpen
  • My Review
    • Review Buku
    • Review Novel
    • Review Film
    • Review Drama
  • Puisi
  • Essai

Gambar diambil dari google


Reni, Juliani. Pesan Anti Rasisme dalam Film Dear White People: Universitas Teuku Umar. 

Keywords: Message, Anti Rasisme, Film.  

 

Film Dear White People garapan Justrin Simien mempunyai pesan bahwa penindasan, dikriminasi, atau pengucilan terhadap suatu golongan, kaum maupun kelompok baik minoritas maupun mayoritas merupakan bentuk rasisme. 

Perjuangan melawan rasisme dengan menindas kelompok mayoritas mempunyai stereotip bahwa kelompok mayoritas selalu menindas kelompok minoritas, hal ini merupakan rasisme bentuk baru. Salah satu penggunaan tanda yang terdapat dalam film Dear White People terlihat saat pesta Halloween, ras kulit putih berpesta dengan kostum ras kulit hitam. Ada yang mewarnai kulitnya menjadi hitam, menggunakan pakaian R&B dan menjadi rapper, menggunakan rambut palsu yang keriting, menggunakan topeng muka Obama, dan poster dengan tulisan Missing Black Culture yang berarti budaya kulit hitam yang hilang.  

Dalam Jurnal ini dikatakan bahwa Film Dear White People garapan Justrin Simien ini terlihat jelas tidak memihak kepada suatu ras atau golongan. Film tersebut memaparkan realita yang ada yang terjadi di Amerika. Walaupun ras kulit hitam pernah menjadi orang nomor satu di Amerika, hal ini tidak menjadikan penindasan ras kulit hitam hilang dari Amerika. Dalam filmnya tersebut dapat kita lihat bahwa realitanya penindasan masih ada walaupun beberapa sudah menerima perbedaan mereka, namun tidak bisa dipungkiri bahwa rasisme masih terjadi. kelebihan Jurnal ini adalah, karena Penulis melengkapinya dengan gambar potongan-potongan adegan dalam film yang menguatkan argumen dari penulis dalam jurnal ini.  

 

Daniel, S.A.P. Representasi Rasisme Dalam Film Cadillac Records: Universitas Kristen Petra Surabaya.

 Keywords: Representasi, Rasisme, Semiotika, Film  


Penelitian dalam jurnal ini memperlihatkan bagaimana rasisme direpresentasikan di dalam film Cadillac Records dengan menggambarkan kaum kulit hitam sebagai barang komoditas secara implisit, kaum kulit putih mendominasi semua aspek kehidupan dan diskriminasi  berdasarkan ciri fisik yang ditunjukkan di dalam film ini.  

Jurnal ini menunjukkan bagaimana perilaku kaum kulit putih di dalam Film Cadillac Records yang melakukan tindakan diskriminasi dan pembedaan berdasarkan ciri – ciri fisik yang berbeda antara kaum kulit putih dan kaum kulit hitam. 

Kaum kulit hitam digambarkan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Kaum kulit putihlah yang mendominasi semua aspek kehidupan. Kaum kulit hitam diperlihatkan sebagai barang yang dapat diperjualbelikan oleh kaum kulit putih. Secara implisit, film ini seakan – akan merepresentasikan bahwa kaum kulit putih sebagai penyelamat para kaum kulit hitam yang akan mementaskan kaum kulit hitam dari kemiskinan yang terjadi pada masa itu. 

Namun dibalik itu kaum kulit putih ingin mendapatkan keuntungan dari kaum kulit hitam. Terlebih lagi, mereka menganggap kaum kulit hitam sebatas dagangan atau komoditas untuk meraup keuntungan finansial. 

Bagian analisis dan interpretasi dalam jurnal ini ditulis hanya dengan menggunakan 185 kata. Sehingga pembaca kurang dapat memahami secara sistematis proses-proses analisis dan interpretasi yang penulis lakukan dalam penelitian ini. 

 

Adlina, G. Catur, N. Pemaknaan Rasisme dalam Film (Analisis Resepsi dalam Film Get Out): Universitas Telkom Bandung. 

Keywords: Communication; Reception Analysis; Film  

 

Penlitian dalam jurnal ini dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi mengenai pembacaan (resepsi) khalayak tentang pemaknaan rasisme dalam film Get Out bahwa posisi penonton dalam penerimaan mereka tentang makna rasisme dalam film Get Out didominasi oleh posisi oppositional position. Dari ketujuh adegan unit analisis yang diteliti, lima di antaranya berada di oppositional position mutlak dalam satu scene lainnya informan lain berada di posisi dominant position yang dimana dalam setiap adegan menampilkan materi rasisme yang berbeda-beda.  

 

Pada adegan pertama, salah satu informan dalam penelitian ini berpendapat bahwa tidak seharusnya polisi bersikap seperti itu kepada penumpang berkulit hitam. Pada adegan kedua, informan berpendapat bahwa perbincangan yang terjadi merupakan hal yang biasa saja namun sebaiknya memilih topik lain. 

Pada adegan ketiga, informan berpendapat bahwa tidak seharusnya dia bersikap memandang rendah dan berbicara orang yang berkulit hitam memiliki badan yang besar mengerikan. Pada adegan keempat, informan berpendapat bahwa tidak seharusnya mendapat perlakuan untuk membandingkan fisik orang kulit hitam dengan orang kulit putih. 

Pada adegan kelima, informan berpendapat bahwa tidak seharusnya dirinya mendapat perlakuan untuk membandingkan fisik yang berbeda dengan orang berkulit putih. Pada adegan keenam, informan berpendapat bahwa tidak seharusnya berkata orang berkulit hitam itu keren. 

Adegan  ketujuh, informan berpendapat bahwa percakapan yang terjadi merupakan hal yang biasa karena pertanyaan tersebut hanya berasal dari rasa penasaran saja. Dengan demikian informan satu berada pada tipe pembacaan oppositional reading karena pendapat yang dikemukakannya tersebut tidak menyetujui terhadap makna rasisme yang digambarkan dalam film Get Out.  

 

Penelitian dalam jurnal ini menggunakan empat orang informan sebagai penyaji data bagi si penulis untuk kemudian diinterpretasikan. Jurnal ini juga dilengkapi dengan tabeltabel, yang memudahkan pembaca untuk memahaminya.   

Sumber: Instagram @hijabalila

Beberapa tahun terakhir, fenomena hijrah terus mendapat perhatian masyarakat, terutama kaum muda. Banyaknya kajian hijrah inovatif yang dihadirkan seperti Hijrah Festival, Kajian Pemuda Hijrah, mendorong kaum muda untuk berbondong-bondong meramaikan masjid. Kenaikan jumlah jamaah kajian terutama kaum muda yang bisa mencapai ribuan dalam setiap acara kajian, menghidupkan kembali lingkungan masjid, sehingga berbagai program masjid mulai dilakukan. Selain ajakan ‘Siapkan Infaq Terbaikmu, belakangan ini kajian hijrah ramai menambah ajakan baru dalam poster kajian mereka: “Bring Your Tumbler,” disertai tagar #kajianlesswaste, #masjidlesswaste.

Gerakan masjid less waste ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan sampah plastik yang semakin parah. Menurut data wall street journal (2010), Indonesia merupakan negara penyumbang polusi laut terbesar kedua di dunia dari banyaknya sampah plastik yang mengalir ke laut. Selain berbahaya bagi biota laut, pada akhirnya sampah ini juga membahayakan manusia karena sumber makanan dari laut yang tercemar polusi plastik.

Sebenarnya gerakan peduli lingkungan ala #kajianlesswaste ini bukan kali pertama. Sudah banyak organisasi lingkungan yang melakukan kampanye sejenis untuk membawa botol minuman, tas kain, sedotan stainless, dan upaya pengurangan sampah plastik lainnya. Namun, yang membuat gerakan ini spesial karena pelopornya adalah tokoh agama yang berasal dari kelompok ustadz hijrah “Barisan Bangun Negeri” terdiri dari delapan penceramah populer di kalangan milenial, yaitu ustadz Abdul Somad, Ustadz Hanan Attaqi, Ustadz Felix Siauw, Ustadz Oemar Mita, Ustadz Oemar Mita, Ustad Salim A. Fillah, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Luqmanul Haqim, Ustadz Habib Anies.

Memanfaatkan jamaah kajian yang didominasi oleh kaum muda, program ini telah berjalan di beberapa daerah seperti Bandung, dan Bintaro. Penggunaan tagar #masjidlesswaste juga sesuai dengan misi kelompok ustadz tersebut untuk menjadikan masjid sebagai pusat ilmu dan gerakan. Menariknya, kampanye #lesswaste ini memberi citra alternatif pada masjid yang selama ini hanya dikenal sebagai pusat kegiatan ritual menjadi pusat pergerakan sosial ekologis.

Dalam beberapa kajian, seperti ustadz Felix Siauw dan Hanan Attaqi sebelumnya seringkali  menggebor-geborkan bahwa masjid adalah jantung peradaban umat. Semua peradaban umat dimulai dari masjid. Fenomena hijrah yang membangkitkan semangat kaum muda merupakan jalan awal untuk membangun kembali jantung peradaban. Dengan adanya program masjid less waste, masjid tidak lagi hanya menjadi tempat ibadah yang hanya didatangi seminggu sekali atau hanya menjadi pusat kegiatan ritual, melainkan menjadi jantung peradaban seperti pada zaman Nabi Muhammad SAW, yang segala kegiatan berpusat di masjid.

Masjid juga menjadi salah satu tempat strategis dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Masjid menjadi jantung umat, yang juga menjadi pilar kebangkitan umat. Sehingga semua program yang bertujuan untuk membawa perubahan baik itu secara sosial, eskologis, seperti gerakan masjid less waste akan lebih baik dimulai dari Masjid. Selain itu, masjid pula dapat menjadi mitra lembaga pendidikan dalam membentuk peradaban manusia.


Ketika SMP dan SMK,  aku pernah mengalami masa transisi dari siswa aktif menjadi siswa pasif di kelas akibat korban bully.

Saat kelas IX SMP, aku pindah sekolah dari SMP di kabupaten ke SMP di provinsi. Aku terbiasa ekstra belajar karena tuntutan di sekolah lamaku  yang merupakan SMP unggulan di Kabupaten dan berstandart nasional. Di sekolah baruku, mendadak aku menjadi siswa yang dikenal oleh guru-guru di sekolah, termasuk menjadi saingan oleh teman sekelasku yang ternyata selalu istiqomah meraih peringkat 1 di kelas. 

Kami tidak musuhan, hanya saja aku merasakan ketidaksukaannya akan kehadiranku sebagai murid baru di kelas. Terbukti, di semester pertama, aku meraih peringkat 1 di kelas, dan meraih juara umum 2 di sekolah. Sedangkan dia, bergeser ke peringkat 2 di kelas.

Semua berjalan normal, sampai di pertengahan semester 2, tepatnya ketika melaksanakan pendalaman materi untuk persiapan UN. Saat itu kami sedang membahas soal di salah satu pelajaran, dan aku protes dengan jawaban yang diberikan oleh guruku. Aku merasa apa yang dijelaskannya kurang tepat sebagai jawaban. Saat itu, hanya aku satu-satunya yang memilih jawaban yang berbeda. Aku pun memberikan argumen serta bukti-bukti yang kuat kepada guruku.  Lantas, guruku pun bilang dia akan kembali memikirkannya dan membahasnya minggu depan. Saat minggu depan, aku dengan percaya diri, yakin,  bahwa guruku akan sependapat denganku, ternyata salah. Guruku tetap memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya. Aku merasa saat itu teman-temanku membiacarakanku di belakang. Aku tak mengerti bagaimana bisa jawabannya jadi seperti itu, seharusnya bukan itu. 

Esoknya, aku merasa beberapa teman yang sering mengobrol denganku di kelas, mendadak menujukkan sikap lebih pro ke teman sainganku itu, dia tidak lagi bertanya soal pelajaran denganku, melainkan ke sainganku, padahal tempat duduknya lebih dekat denganku. 
Aku merasa dikucilkan, meskipun tidak seekstrim itu, tapi itulah yang ada di pikiranku. 

Aku merasa kesal, marah, apalagi ketika aku bertukar pendapat dengan temanku di kelas lain, kebetulan dia juga diberi soal yang sama dengan guru yang berbeda, dan betapa mengejutkannya aku, dia bilang jawaban yang benar dari gurunya adalah persis seperti jawabanku. Aku jadi bingung, apa guru di kelasku malu mengakui kesalahannya di depan murid, karena dari sekelas, hanya aku yang bisa menjawab dengan benar, apa dia begitu malu mengakui bahwa jawabannya dan jawaban dari seluruh teman sekelasku adalah salah. Aku kira, guru akan lebih malu jika mengajari muridnya dengan teori yang salah. Ternyata, guru juga seperti manusia yang lainnya, malu mengakui kesalahannya sendiri. 

Sejak itu, aku kurang berminat dengan apa yang disampaikannya, aku juga malas menjawab kuis yang diberikannya, aku bahkan jadi pasif dan jarang unjuk gigi untuk tampil memberikan pendapat. Aku menjadi siswa pasif sampai akhirnya nilaiku turun dan menjadi peringkat 2 di kelas, sedangkan sainganku kembali mendapatkan posisinya semula sebelum kedatangananku, menjadi  juara kelas. 

ketika lulus, aku harus ikhlas bahwa orang tuaku memandaftarkanku di SMK ibukota. Aku pindah dari provinsi, ke ibukota. Aku yang awalnya berminat masuk SMA, lagi-lagi harus beradaptasi dengan suasana yang kurang menyenangkan bagiku, sekolah di sekolah yang tidak mempunyai standart khusus. Awalnya, aku menjalaninya dengan setengah marah, karena harus sekolah di SMK. Lama-kelamaan aku mulai menikmati. 

Aku kembali menjadi juara kelas berturut-turut. Hingga, kejadian tidak menyenangkan itu datang lagi. Ketika di kelas XI, aku mempunyai teman yang suka bolos, dan mendapatkan surat peringataan dari kepala sekolah. Aku diminta salah satu guru untuk mengantarkan surat undangan wali murid ke rumah orang tuanya. Di sana, aku mendapati bahwa orang tuanya  (maaf) cacat. Hatiku mencelos, ketika menyadari bahwa orang tua sepertinya memiliki anak yang terancam DO. 

Besoknya, ketika pembagian kelompok di salah satu matpel, aku mengajukan diri untuk satu kelompok dengannya. Aku tahu, banyak teman-temanku yang tidak mau sekelompok dengannya, aku hanya tidak ingin dia merasa diasingkan di kelas, dan menjadi malas sekolah. Tapi ternyata niat baikku disalah artikan oleh teman-temanku yang lain. 

Aku mulai merasakan ketidaksukaan beberapa temanku, hingga klimaksnya ketika presentasi kelompok. Aku dibantai habis-habisan oleh pertanyaan mereka, aku tahu mereka sengaja mengeles dan menepis atau kasarnya tidak akan pernah mau terima dengan argumenku. Satu jam pelajaran dihabiskan hanya untuk presentasiku. Akhirnya, setelah presentasi aku menangis. Aku merasa teman-teman membenciku. Aku mulai difitnah bahwa aku sering pilih kasih memberikan presentasi kehadiran temanku yang sering bolos itu.  Aku juga mendengar dari salah satu teman yang bilang "Nyayu itu perfeksionis, makanya anak-anak pada gak suka." 
Aku lantas bilang "Kalau aku perfeksionis, apa aku merugikan kalian? Aku aku menyusahkan kalian? Karakter orang kan beda-beda. Aku memang perfeksionis, aku bahkan pernah membuat ulang makalah kelompok hanya gara-gara teknik penulisannya yang salah, tapi itu kukerjakan sendiri, aku print sendiri, pakai uang sendiri, tidak meminta patungan lagi, justru kalian yang enak, tidak repot-repot mengeluarkan uang dan tenaga  tambahan tapi ikut mendapat nilai A."

Hari-hariku berubah menjadi lebih sepi, tepatnya aku menjadi merasa asing di kelas, aku juga kembali pasif seperti waktu SMP sebelumnya, aku bahkan beberapa kali izin pulang karena tidak kuat dengan gunjingan dan protes teman-temanku terhadap sikap perfeksionisku. Tapi untungnya, karena guru-guru sudah mengenalku, mungkin sikap pasifku tidak terlalu dipermasalahkan, aku tetap menjadi juara kelas sampai di kelas XII. 
Seiring berjalannya waktu juga, teman-temanku kembali membaik karena teman yang sering bolos itu akhirnya benar-benar di drop out dari sekolah, ditambah UN yang semakin dekat sehingga kami mau tidak mau harus belajar berkelompok. Aku banyak belajar bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang kontras sekali perbedaannya dengan lingkunganku sebelumnya, serta bagaimana menerima perbedaan karakter dan pola pikir teman-temanku. 












Tulisan ini aku buat setelah aku membaca buku karangan Buya Hamka; Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Meski filmnya sudah kutonton bertahun-tahun silam, rasanya tidak adil jika tidak membaca bukunya juga.

Premis kedua cerita tersebut hampir sama; Cinta terhalang kelas sosial. Endingnya pun hampir sama; Tidak pernah ditakdirkan bersatu. 

Di Bawah Lindungan Ka'bah mengisahkan Hamid dan Zainab yang lebih dulu menghadap Sang Illahi sebelum mengikrarkan cinta mereka. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck mengisahkan Zainuddin yang harus kembali kehilangan Hayati.

Dari sana dapat kita tangkap bahwa kisah mereka lagi-lagi merupakan kisah sad ending yang pada dasarnya merupakan kisah yang kusukai. 

Tapi point pentingnya adalah meskipun kisah mereka tragis, aku merasa bahwa aku tak seberuntung Hamid ataupun Zainuddin. Hamid yang tak sempat bertemu Zainab untuk mengucapkan bahwa dia juga mencintai Zainab karena ternyata cinta Allah yang lebih dulu bertemu dengannya, justru lebih beruntung daripada aku. Begitupun Zainuddin yang  baru mengetahui bahwa cinta Hayati hanya untuknya seorang sesaat ketika Hayati akan menjemput ajalnya. Beruntunglah mereka yang ternyata saling menyambut anugerah terindah dari Tuhan; Cinta. (Meski tak ditakdirkan bersama di dunia).

Aku baru menyadari mengapa seumur hidupnya Kahlil Gibran, Jane Austen tak pernah menikah. Mereka hidup dalam kekayaan hati mereka sendiri. Mereka merasa cukup dengan hanya mencinta. Begitupun Rumi, dia merasa cukup dengan cintanya kepada Sang Illahi.


Sebaliknya aku tak habis pikir dengan kisah-kisah lainnya. Mereka yang saling mencintai tapi tak pernah mengalah dengan egoisme dan keangkuhan mereka. Mereka yang mempunyai waktu dan kesempatan untuk bersatu tapi malah mengalah pada egoisme mereka sendiri, menciptakan jarak mereka sendiri. Bukankah cinta melebihi segalanya? Mengapa hanya karena rasa bersalah, beban masa lalu, keangkuhan memaafkan kesalahan orang lain, lantas mereka menukarkannya dengan cinta. Tak semua orang seberuntung kalian, yang saling menyambut dalam cinta dan diberi kesempatan untuk bersatu. 






Sebelumnya aku minta maaf, jangan tanya kenapa aku bisa menulis cerita seperti ini, mungkin karena aku bosan dengan romance, dan masih terasa sensasinya setelah membaca novel Agatha Christie. Jadilah cerita feminisme dan agak dark gini. Mau dibuang sayang, jadi diupload deh. Selamat membaca..

***

Aku meringkuk di sudut kasur. Sudah satu jam badanku bergetar tak henti-hentinya. Rasanya aku ingin sekali menjerit sekeras mungkin, namun tak bisa. Tubuhku lemas. Aku meringis menahan sakit yang kurasakan di bagian bawah perutku, sementara laki-laki itu hanya tertawa puas sambil merapikan celananya. Seperti hewan buas yang sudah mendapatkan mangsanya, dia pergi begitu saja tanpa peduli apa yang sudah dilakukannya. Dia membunuh hidupku.
Aku bukan wanita rendahan, aku hanya wanita yang bernasib sial bertemu laki-laki jahanam seperti dirinya. Namanya Joni. Awalnya, kupikir dia laki-laki yang baik. Tutur kata dan tingkah lakunya sopan. Tak lama kemudian, aku mendapat laporan dari temanku bahwa dia kerap melihat Joni pulang larut pagi dalam keadaan mabuk.
Ketika aku bertanya langsung kepada Joni, dia mengelak dengan kata-kata kasar. Lalu tatapan matanya yang tulus, berubah menjadi tatapan lapar. Saat itu aku tahu, dia sedang mabuk. Lalu dia menyeretku ke tempat ini. Dia seperti binatang buas yang menerkam mangsanya, sedangkan aku seperti tikus kecil yang diterkam buaya. Dengan brutalnya, dia menjelajahi kehormatanku. Aku meronta-ronta sekuat tenaga, namun tenaganya jauh lebih kuat. Bau alkohol dari mulutnya mulai tercium di wajahku. Aku menamparnya. Bukannya sadar, dia malah menjadi lebih brutal. Bajuku berhasil dirobek olehnya, dan saat itu aku hanya bisa menangis tanpa tahu harus berbuat apa. Aku lemah, bodoh, karena tertipu oleh topengnya. Sekarang aku hanya wanita kotor.
"Aaaagrhhh Joni sialaaaaaan!" Aku akhirnya menjerit melampiaskan amarahku. Berkali-kali aku berteriak, memberikan sumpah serapah kepada laki-laki itu.
Aku tidak tahu bagaimana aku akan menjalani hari-hariku ke depannya. Aku takut. Dunia terasa menghimpitku, aku merasa kerdil dan terperangkap dalam lubang kotor ini. Aku sudah menjadi sampah. Ya, aku sampah yang dibuang Joni.
"Aku sampah Joni, aku sampah! Kotor!"
Hari-hariku terasa suram, gelap. Selama satu bulan, aku lebih banyak berada di dalam rumah. Aku tak sanggup keluar rumah. Apalagi setelah aku tahu bahwa benih yang ditanam Joni, tumbuh subur di rahimku. Aku takut semua orang akan tahu bahwa aku kotor. Lalu mereka akan menertawakanku, membicarakanku di belakang, dan menghinaku.
"Lihat itu Nisa! Lihat wanita kotor itu, lihat! dasar wanita sundal." Bayangan wajah orang-orang mencemooh menghantuiku.
"Nisa itu tampangnya saja polos, dalamnya luar biasa busuk." Aku membayangkan semua orang melemparkan tatapan tajam ke arahku.
"Bukan aku, bukan akuuuuuuuuu!" Aku menangis, aku menutup telinga dari semuanya. Duhai para manusia kejam; Laki-laki yang bermodal rayu dan nafsu, wanita yang merasa dirinya paling suci. Aku benci hidup di tengah-tengah manusia seperti kalian, aku muak! Terutama laki-laki itu.
"Setan! Laki-laki itu setan!"  Kali ini aku berteriak lebih keras dan liar, aku ingin mereka tahu bahwa laki-laki itu busuk.
Berbulan-bulan sudah aku mendekam di dalam kamar. Aku sadar, manusia kotor dan sampah sepertiku memang tidak pantas berada di antara manusia suci. Aku memutuskan untuk pergi ke tempat yang bisa menampung sampah sepertiku.
Berdirilah aku di sini. Tempat yang gemar sekali didatangi oleh laki-laki seperti Joni. Awalnya aku hanya menganggap tempat ini sebagai pelarian hidup. Lama-kelamaan aku mulai menikmati kehidupan baruku di sini. Jangan tanya padaku bagaimana dengan janinku, sudah jelas bukan, aku tidak punya pilihan selain menggugurkannya. Aku menikmati peranku sebagai wanita pemuas kaum adam. Toh, hidupku sudah kotor. Setiap harinya aku bergumul bersama laki-laki. Sama sepertiku, mereka datang membawa keluh kesah masing-masing. Ada yang kecewa dengan istrinya yang mandul, ada yang mencari pelampiasan karena istrinya selingkuh, atau mereka yang memang laki-laki bejat seperti Joni. Sementara aku datang untuk menunggu Joni. Aku yakin Tuhan akan memberikan kesempatan untuk mempertemukan kami. Aku menunggu saat-saat itu.
Sekarang, semua pria di sini menginginkanku. Mereka tak mengenal Nisa yang polos dan lugu. Mereka hanya mengenal Salma yang cantik, menyenangkan, dan seksi. Ya, sekarang aku pandai merayu dan membahagiakan laki-laki. Membawa mereka ke puncak kenikmatan duniawi adalah keahlianku. Seperti malam ini, laki-laki keturunan Tionghoa itu masih betah berlama-lama di atas tempat tidur denganku. Aku tak masalah. Toh laki-laki ini kaya raya, dia membawaku ke hotel berbintang di Ibukota. Aku memang pilih-pilih soal pelanggan. Biar bagaimanapun, aku tidak mau disentuh oleh sembarangan laki-laki. Biasanya aku memilih laki-laki yang berkelas, yang tahu bagaimana bersikap dan tidak asal memilih tempat.
Dia masih sibuk membelai tubuhku. Laki-laki memang tak pernah puas. Makhluk buas seperti mereka tidak akan pernah cukup dengan satu wanita. Aku tahu laki-laki ini masih lajang. Di usia sepertinya, hasrat laki-lakinya masih memuncak. Dia masih ingin mendengarkan desahanku. Beberapa kali aku melenguh, yang langsung disambut oleh erangannya. Suara kami beradu. Aku benar-benar menikmatinya. Berbeda dengan dulu, aku hanya bisa merasakan sakit, baik jiwa maupun raga. Tidak ada kenikmatan yang kurasakan dari sentuhan Joni.
Kami berlomba-lomba mencapai kenikmatan itu. Hingga ketika kami berhasil meraihnya, Laki-laki Tionghoa itu tersenyum puas kepadaku.
“Kamu memang pandai sekali, aku tidak salah memilihmu.” Dia berkata dengan lembut, khas laki-laki ketika sudah diberi kepuasan. Dia mengecup keningku.
Kalau ditanya apa aku bahagia dengan semua kenikmatan semu ini? Tidak, aku tak pernah bahagia. Aku hanya menipu diriku sendiri. Sebenarnya, akulah yang memanfaatkan laki-laki untuk menegaskan betapa kotornya diriku. Aku lah yang menggunakan mereka untuk mencapai tujuanku. Aku ingin setiap laki-laki yang membeli tubuhku, merasakan betapa luar biasanya diriku. Hingga nantinya mereka akan menyerukan namaku di setiap obrolan mereka. Ya, laki-laki bejat seperti mereka, ketika berkumpul yang dibicarakan hanya wanita. Aku ingin nama Salma terdengar sampai ke telinga Joni. Biar saja, aku dijadikan piala bergilir oleh mereka. Asalkan mereka mengantarkan aku sampai ke tujuanku. Bertemu Joni.
Aku sudah banyak mencari tahu tentang Joni. Dia masih sama bejatnya seperti dulu. Masih suka pulang pagi, mabuk-mabukan. Kudengar ada wanita yang bunuh diri, karena dihamili olehnya. Dasar biadab!
Joni sering menghabiskan malam di tempat sepertiku. Dia juga telah menjadi pegawai negeri. Aku benci membayangkan mukanya yang semakin sengak dan licik itu. Aku tak pernah membenci Tuhan yang memberikan kesuksesan materi kepada orang seperti Joni. Toh, uang mereka juga untuk kami. Aku hanya benci dengan laki-laki yang memanfaatkan kuasanya untuk menaklukkan wanita.
Hampir satu tahun aku menjelajahi tempat kotor ini. Hampir semua laki-laki di sini telah merasakan tubuhku. Tapi aku belum puas. Mangsa yang kutunggu-tunggu masih belum datang menghampiriku. Aku telah memasang umpan yang begitu menggoda, menggiurkan bagi laki-laki. Namun Joni belum juga kelihatan batang hidungnya.
“Salma?” Panggilan itu masih asing di telingaku sendiri. Teman satu kerjaan denganku baru saja menepuk bahuku.
“Ya? Ada yang pesan?” Tanyaku dengan nada menantang. Hari ini aku memakai gaun beludru hitam backless. Aku sengaja memilih hitam, karena kontras dengan kulitku yang putih. Model baju ini juga sangat menonjolkan lekuk tubuhku. Rambutku digelung anggun dengan tusuk perak klasik.
“Gila! kamu pakai pelet apa sih? Masa tiap malam ramai terus, bagi-bagi rezekinya sedikit lah.” Temanku itu memang kurang laris jika dibandingkan denganku. Ya, memang sih dia juga punya pelanggan tetap. Tapi tipe-tipe pelanggannya jauh di bawah standar pelangganku. Aku hanya menyunggingkan senyum di bibir yang telah kupoles dengan lipstik merah menggoda. Aku mengedipkan mata sebelum pergi menghampiri laki-laki yang telah menungguku.
Seperti biasa, aku berjalan santai menghampiri laki-laki itu. Dia juga menyapa dengan elegan. Tidak bersikap genit terhadapku. Bagus, sesuai seleraku.
“Vodka?” Tanyanya menawarkan minuman. Aku menyambut minuman pemberiannya.
“Sudah berapa lama?” Dia bertanya kepadaku. Oh rupanya dia pendatang baru di sini.
“Kenapa? Takut salah pilih? Aku bukan amatiran kok.” Aku meyakinkannya. Dia hanya mengangguk mantap.
“Yuk, aku sudah memesan tempat spesial.” Bak peragawati, dia berjalan tegap sambil menggandeng lenganku. Baru saja kami akan masuk ke dalam mobil, saat itulah aku melihat Joni. Dia turun dari mobil jeepnya. Mukanya terlihat sama persis. Aku menghentikan langkahku.
“Maaf, aku tiba-tiba haid. Bagaimana kalau ganti hari? Nanti aku kasih diskon spesial.” Aku bertanya dengan lembut sambil merapikan kemejanya.
“It’s ok, next time saja.” Katanya sambil tersenyum. Lega rasanya. Inilah keuntungan mempunyai pelanggan berkelas.
Aku lantas masuk ke dalam bar, menyusul Joni. Aku tidak ingin kehilangan jejaknya. Dia tengah minum sambil berbisik kepada wanita. Aku tahu sebentar lagi dia akan datang menghampiriku. Aku duduk manis di meja bar sambil memesan minum. Aku sengaja duduk berlawanan arah dengannya. Aku penasaran bagaimana reaksinya nanti setelah melihat wajahku. Benar saja, aku melihat dari kejauhan temanku datang menghampiriku.
“Sal, sudah selesai kan? Cepat juga. Ada pelanggan baru lagi tuh, mintanya yang paling spesial di sini.” Temanku tidak tahu bahwa laki-laki itu adalah tujuan utamaku datang ke sini.
“Oke, asalkan tarifnya sesuai.” Kataku mengiyakan. Temanku langsung ke tempat Joni. Dia berbisik kepada Joni, disusul dengan anggukan kepala Joni.
Sebentar lagi.
Aku deg-degan. Bukan gugup karena mendamba kehadirannya. Melainkan aku penasaran akan seperti apa sikapnya nanti. Aku pura-pura duduk manis, berbicara dengan bartender. Aku melihat pantulan Joni dari kaca rak minuman. Dia berjalan dengan percaya diri ke arahku.
“Salma, bukan?” Dia menepuk sambil memijit pundakku dengan lembut. Brengsek! Belum apa-apa sudah berani seperti ini.
“Bukan.” Aku berbalik badan, menatap langsung ke wajahnya. Aku tersenyum melihat dirinya mematung. Kaget?
“Nisa?” Tanyanya dengan polos.
“Masih ingat rupanya, kupikir Mas sudah lupa.” Aku tersenyum manja sambil mengelus lehernya. Dia hanya diam saja sesaat.
“Sejak kapan kamu seperti ini?” Tanyanya sok peduli dengan keadaanku.
“Loh seperti apa? Mas kan tahu aku dulu juga pernah menjadi wanita Mas.” Aku masih pura-pura manja dengannya. Aku ingin sekali meludahi wajahnya yang mendadak tergoda dengan elusan tanganku di lehernya. Joni, Joni! Sentuhan seperti ini saja sudah bisa membiusmu. Tanganku berpindah ke arah dadanya. Kuelus kembali dengan sayang.
“Mas sudah tidak penasaran lagi denganku?” Tanyaku sambil tetap mengelus dadanya.
“Aku… Eee… kamu tidak marah denganku, soal waktu itu? Kamu tahu kan aku sedang mabuk waktu itu. Aku juga berusaha mencari kamu. Tapi, karena aku sudah resmi jadi pegawai negeri, aku beberapa kali ditugaskan ke luar kota. Syukurlah kita sudah bertemu seperti ini, kamu juga tambah cantik.” Dia berkilah sambil membelai rambutku. Tatapannya mulai menunjukkan bahwa dia lapar. Omongannya terasa seperti pedang yang menusuk luka lamaku. Hampir saja aku mencengkram kerah bajunya. Aku harus bisa menahan diri.
Begitu cepat Joni masuk ke dalam perangkapku. Aku mengajaknya ke kamarku sendiri. Kamar nomor 13. Selain hotel, aku memang suka melayani laki-laki di kamar ini. Awalnya Joni ingin memesan kamar mewah di hotel berbintang sebagai hadiah spesial untuk pertemuan pertamanya denganku. Tapi aku menolak, karena ini pekerjaan, bukan urusan hati.
Aku menutup gorden jendela. Aku memasang senyum manis menggoda kepadanya. Dia bangkit dari tempat tidur, menghampiriku yang berdiri di depan jendela. Dia memelukku. Kami mulai saling memercikkan api cinta. Percikan-percikan yang kami hasilkan membuat Joni menggiring tubuhku ke atas tempat tidur.
Seperti dulu, dia mulai menjelajahi tubuhku. Dia memulainya dengan perlahan. Hingga kehangatan menjalar ke seluruh tubuh kami. Peluh menetes dari wajahnya. Aku baru tahu ternyata dia pandai sekali membuatku mendesah, melenguh karena sensasi sentuhannya. Kami semakin dalam terbawa kenikmatan cinta. Aku melihatnya menikmati setiap lenguhan yang keluar dari mulutku. Dia mulai menggila, erangannya mulai terdengar. Nafasnya semakin memburu, sebentar lagi dia akan mencapai puncak kenikmatannya. Dan, ketika dia hampir meraihnya, aku menancapkan tusuk rambut perakku tepat di urat lehernya! Suaranya tercekat, bersama darah segar yang mengalir membasahi dadanya. Percikan darahnya mengenai wajahku.  Aku bangkit dari tubuhnya yang sudah kaku.
Dendamku sudah terbalas.
Aku puas melihat tubuhnya yang telah menjadi mayat. Tatapan lapar itu kini berubah menjadi tatapan kosong. Tidak ada lagi senyum nakal. Hewan buas itu telah mati terperangkap oleh mangsanya sendiri.
Aku mengambil tabung kaca yang sudah sejak lama kusembunyikan di dalam lemari. Tabung yang di dalamnya terdapat daging yang telah diawetkan. Ya daging itu adalah janin anakku dan Joni yang telah aku aborsi beberapa bulan yang lalu.
Aku menangis menatap janin itu. Janin yang sempat tumbuh di rahimku. Janin yang dengan teganya telah kubunuh dengan tanganku sendiri. Semua itu karena Joni sialan! Jabang bayi itu lalu kuangkat dengan tanganku yang berlumur darah, dan kuletakkan di atas dada Joni.
“Hahaha Joni sialan itu sudah mati! Lelaki bejat itu sudah mati!  Aku telah membunuh dia dan anaknya hahaha.” Aku berteriak, aku menjerit kesetanan.
Sekarang, ke mana lagi aku akan pergi? Sudah tidak ada lagi tempat untuk wanita kotor, sampah, dan pembunuh sepertiku! Manusia yang merasa dirinya begitu suci, tak akan pernah mau hidup berdampingan dengan manusia kotor sepertiku. Aku menatap darah yang menetes dari mayat Joni dan janin itu. Aku tersenyum, mencabut tusuk perak yang masih tertancap di leher Joni.
Kita akan berjumpa nak!













Seseorang pernah berkata kepadaku, jika titik tertinggi romantisme adalah ketika sepasang kekasih saling mencintai tanpa pernah sekalipun mengikrarkan cinta itu sendiri, dan titik terendah romantisme adalah bukan ketika mereka terpisah karena jarak dan waktu, melainkan ketika mereka tak lagi saling mendoakan.

Aku mungkin salah satu di antara sekian banyak orang yang menyukai kisah sad ending, sebut saja kisah legendaris Shakespeare; Romeo dan Juliet, kisah Jane Austen dan kekasihnya; Tom Lefroy, atau kisah Cecilia Tallis dan Robbie Turner dalam Atonement karya Ian McEwan. Aku sangat menyukai kisah mereka. Tapi point pentingnya adalah aku tak pernah berpikir bahwa kisah mereka benar-benar sad ending, karena sampai akhir hayat mereka tetap saling mencintai, meskipun takdir tak memihak.

Bukankah itu titik tertinggi dari romantisme? Mereka tak pernah benar-benar berpisah dalam cinta. Kata tersebut selalu bersemayam di hati mereka. Romeo dan Juliet rela memberikan nyawa mereka kepada pemegang takdir karena tak pernah mengalah pada cinta mereka. Jane Austen rela mengorbankan hidupnya, melepaskan Tom Lefroy demi kehormatan keluarganya, dan Tom Lefroy rela mengorbankan hatinya demi Jane Austen. Saking cintanya dengan Jane, anak perempuannya diberi nama Jane, seperti nama kekasihnya. Terakhir Cecilia dan Robbie yang sampai akhir hayatnya tetap saling mencintai walau takdir tak pernah memberikan mereka kesempatan untuk bersama hingga Robbie Turner harus meninggal dalam perang, dan Cecicilia meninggal dalam ledakan bom ketika bertugas menjadi perawat di rumah sakit.

Justru sad ending adalah ketika seseorang ditinggalkan, dikhianati oleh kekasihnya. Mereka berpisah karena tak ada lagi cinta. Bahkan, yang paling menyedihkan adalah ketika sang perempuan tetap mencintai orang yang meninggalkannya, tetap menyematkan doa meski orang tersebut tak lagi memiliki cinta terhadapnya.

Kisah Gatsby dalam The Great Gatsby mengajarkanku bahwa cinta dapat membuat seseorang mengorbankan martabatnya sekalipun, bahkan dia rela dicurangi oleh kekasihnya dan takdirnya sendiri. Gatsby rela menjadi tersangka dalam kasus tabrak lari yang dilakukan oleh kekasihnya, dan dia meninggal dengan senyum membawa gelar pembunuh yang seharusnya tak pernah tersemat padanya. Sementara kekasih yang dicintainya mengkhianati cintanya, lebih memilih menyelamatkan dirinya sendiri.

Sekali lagi, hal menyedihkan adalah ketika mereka ditinggalkan oleh cintanya sendiri, bukan kekasihnya. Jika kekasih meninggalkan mereka karena tak ada lagi cinta itu dinamakan dengan perpisahan. Sejatinya, perpisahan itulah yang dinamakan sad ending.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I'm one of those who believe that there is no friend as loyal as a book.

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  Juli (1)
      • Indonesia Selama Pandemi dalam Pertunjukkan Teater...
  • ►  2020 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Juli (3)
  • ►  2018 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2017 (2)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates