Essay, Journal, Book, Movie
  • Home
  • Artikel
  • Cerpen
  • My Review
    • Review Buku
    • Review Novel
    • Review Film
    • Review Drama
  • Puisi
  • Essai
Seseorang pernah berkata kepadaku, jika titik tertinggi romantisme adalah ketika sepasang kekasih saling mencintai tanpa pernah sekalipun mengikrarkan cinta itu sendiri, dan titik terendah romantisme adalah bukan ketika mereka terpisah karena jarak dan waktu, melainkan ketika mereka tak lagi saling mendoakan.

Aku mungkin salah satu di antara sekian banyak orang yang menyukai kisah sad ending, sebut saja kisah legendaris Shakespeare; Romeo dan Juliet, kisah Jane Austen dan kekasihnya; Tom Lefroy, atau kisah Cecilia Tallis dan Robbie Turner dalam Atonement karya Ian McEwan. Aku sangat menyukai kisah mereka. Tapi point pentingnya adalah aku tak pernah berpikir bahwa kisah mereka benar-benar sad ending, karena sampai akhir hayat mereka tetap saling mencintai, meskipun takdir tak memihak.

Bukankah itu titik tertinggi dari romantisme? Mereka tak pernah benar-benar berpisah dalam cinta. Kata tersebut selalu bersemayam di hati mereka. Romeo dan Juliet rela memberikan nyawa mereka kepada pemegang takdir karena tak pernah mengalah pada cinta mereka. Jane Austen rela mengorbankan hidupnya, melepaskan Tom Lefroy demi kehormatan keluarganya, dan Tom Lefroy rela mengorbankan hatinya demi Jane Austen. Saking cintanya dengan Jane, anak perempuannya diberi nama Jane, seperti nama kekasihnya. Terakhir Cecilia dan Robbie yang sampai akhir hayatnya tetap saling mencintai walau takdir tak pernah memberikan mereka kesempatan untuk bersama hingga Robbie Turner harus meninggal dalam perang, dan Cecicilia meninggal dalam ledakan bom ketika bertugas menjadi perawat di rumah sakit.

Justru sad ending adalah ketika seseorang ditinggalkan, dikhianati oleh kekasihnya. Mereka berpisah karena tak ada lagi cinta. Bahkan, yang paling menyedihkan adalah ketika sang perempuan tetap mencintai orang yang meninggalkannya, tetap menyematkan doa meski orang tersebut tak lagi memiliki cinta terhadapnya.

Kisah Gatsby dalam The Great Gatsby mengajarkanku bahwa cinta dapat membuat seseorang mengorbankan martabatnya sekalipun, bahkan dia rela dicurangi oleh kekasihnya dan takdirnya sendiri. Gatsby rela menjadi tersangka dalam kasus tabrak lari yang dilakukan oleh kekasihnya, dan dia meninggal dengan senyum membawa gelar pembunuh yang seharusnya tak pernah tersemat padanya. Sementara kekasih yang dicintainya mengkhianati cintanya, lebih memilih menyelamatkan dirinya sendiri.

Sekali lagi, hal menyedihkan adalah ketika mereka ditinggalkan oleh cintanya sendiri, bukan kekasihnya. Jika kekasih meninggalkan mereka karena tak ada lagi cinta itu dinamakan dengan perpisahan. Sejatinya, perpisahan itulah yang dinamakan sad ending.


Berawal dari kebosanan dan pemikiran butuh bacaan absurd; bacaan absurd yang dimaksud bukan bacaan berat seperti Tarian Bumi atau Bumi Manusia. Melainkan bacaan ringan yang menghibur, dan bikin ngakak. Berhubung udah lama banget kayaknya gak  baca novel metropop, alhasil cari-carilah recommend novel metropop yang bagus. Taraaaaa ketemulah dengan novel satu ini; Resign! Kepincut sama review dari beberapa blogger yang bilang novel Mba Almira Bastari ini kayak Ilana Tan dan Ika Natassa yang sekali debut, langsung booming, udah deh langsung aja baca, dan hasilnya WAKAKAKAK! Makasih banget buat Mba Almira Bastari yang udah bikin aku ngakak, dan ngerasa terhibur banget sama tokoh Alranita, Karenina, Carlo, Andre, dan Tigran.

Oke langsung aja kita mulai sinopsisnya:



(Gambar dari google, karena aku bacanya lewat ebook)

              Resign sendiri diambil dari problema geng The Cungpret  alias Kacung Kampret yang terdiri dari Alranita (Rara), Mba Karen (Karenina), Carlo, dan Andre yang mempunyai Bos super duper nyebelin plus bujang lapuk yang bernama Tigran. Mereka membuat taruhan atau yang mereka sebut arisan untuk berlomba-lomba siapa yang resign duluan. Apesnya, Tigran bos mereka yang nyebelin itu kayak punya radar kuat soal rencana resign mereka. Tiap ada jadwal interview, pasti selalu gagal. Dibalik sikap bossy dan nyebelinnya Tigran, ternyata doi diam-diam simpati sama Rara. Banyak banget insiden yang membuat Rara terjebak harus menghabiskan waktu bareng Tigran, dan semua itu gak sepenuhnya kebetulan, melainkan karena Tigran sengaja. Rara yang gengsi gak mau jadi bahan gosip The Cungpret karena jalan sama Tigran, memilih menyembunyikan kedekatan mereka. Endingnyaaa baca sendiri aja deh, karena aku gak mau spoiler ehehehehe yang jelas happy ending kok.

Karakter Favorit:

Rara dong pastinya, dibalik sikap dia yang suka ngeluh sama Tigran karena disuruh revisi 13 kali dalam 1 hari, hampir gak dibolehin ambil cuti, Rara pribadi yang menyenangkan, tegas terhadap junior kayak Sandra yang dramaqueen dan caper abis sama Tigran. Kedua, aku suka sama karakter Mba Karen, karena menurutku dia super moms banget, dan walaupun udah punya anak, justru dialog dia yang bikin aku paling ngakak. Apalagi dialognya sama Rara pas minta photoin Tigran abis berenang wkwkwk

Scene Favorit:

Untuk Scene aku suka semua scene mereka yang di kantor, ngeluh dan gosipin Tigran. Apalagi ketika Carlo bilang kalo mergokin Tigran makan sama cewek dan padahal cewek itu Rara wkwkwk Sumpah ya, dialognya itu loh yang bikin asyik banget bacanya, sampe gak berasa tau-tau udah tamat aja.

Kelebihan Novel:

Kelebihan novel Resign ini menurutku terletak dari dialognya yang kocak abis, guyonannya khas orang kantoran banget. Biasanya aku pribadi gak terlalu suka sama novel yang terlalu ngejual dialog, tapi ini pengecualian. Terus juga novel Resign ini ngangkat cerita yang emang related banget sama kehidupan sehari-hari, kehidupan pegawai yang suka ngeluh sama kerjaan, pengen resign tapi gak jadi-jadi (kayak aku wwkwk). Selain itu bahasa yang dipakai juga kebanyakan Bahasa Indonesia gak kayak novel-novel metropop lain yang suka banget nyampurin bahasa Inggris yang menurutku kebanyakan, di novel ini porsinya PAS. Terus bagi kalian yang gak hopeless romantic, ini novel cocok deh soalnya adegan romantisnya masuk akal banget, gak yang wah wah banget misalnya seorang Tigran yang kaya raya ngajak Rara makan di McDonald, nembak Rara aja di parkiran mobil, ngelamar Rara di bioskop di tengah-tengah iklan film, gak ada adegan cowoknya bertekuk lutut, dan dialog yang super romantis banget. Tapi semuanya pas kok, manisnya dapet tanpa pakai gula tambahan.

Kekurangan Novel:

Ini mungkin bukan kekurangan ya melainkan rasa ketidakpuasanku sebagai pembaca yang nuntut lebih ehehe misalnya kayak adegan Rara pacaran sembunyi-sembunyi takut ketahuan sama geng The Cungpret di kantor harusnya lebih dikembangin, karena pasti kocak banget. Trus Endingnya tambaah lagiiiii, pengen banget ngeliat Rara yang awkward sama Tigran setelah pacaran dengan Bos sendiri wkwkwk.

Kutipan Favorit:

Jadi, tiap awal bab, itu selalu diselipin kutipan-kutipan yang ngena dan kocak juga. Beberapa kutipan Favorit:

"Apalah arti usaha Resign saat melihat rekening pada awal tahun?" 
(Hal 127)

"Gosip itu seperti energi, tidak mungkin dihilangkan, tapi dapat berpindah atau berubah bentuk." (Hukum Fisika The Cungpret).
(Hal 134)

"Sepandai-pandainya menyimpan rasa, pada akhirnya akan terungkap juga dari ekspresi mata." 
(Hal 147)

"Saya nggak pernah menyuruh lembur. Kalau kamu sampai lembur, justra saya yang harusnya bertanya, dari pagi ngapain saja?" 
(Hal 191)




Setelah baca dan terhibur banget sama tulisan Mba Almira Bastari ini, pantas deh kayaknya kalau aku kasih nilai 4.5/5



Kemarin malam, tepatnya sekitar jam 2 pagi, ketika saya lagi asyik menyulam, saya dapat kabar bahwa saudara sepupu saya meninggal. Beliau tergolong masih muda, belum menikah, sudah punya penghasilan sendiri, rumah sendiri, bahkan rela menafkahi kakak perempuannya, seorang janda yang mengidap penyakit syaraf. Mama saya langsung ke rumah sakit, menjemput jenazahnya. Sekitar jam 3 pagi, ketika jenazah sudah sampai di rumah duka, saya datang melayat. Saat itu yang dipikiran saya adalah kenapa belum ada yang membaca Yasin? Saya langsung duduk di samping jenazah bersama saudara sepupu saya yang lainnya, kami berlima membacakan Yasin untuk beliau. 

Setelah beberapa menit, saya selesai membaca Yasin, saudara-saudara saya yang selesai membaca, satu-persatu keluar. Duduk di teras, di bawah tenda. Saya sendiri di dalam, di samping jenazah beliau. 

Satu yang ada dalam pikiran saya saat itu:

“Ketika saya meninggal nanti, apakah keadaan juga akan seperti ini? Orang membaca yasin setelah itu pergi, keluar, lama belum ada yang datang bergantian lagi, malah penuh duduk berkumpul di tenda.”

Saya pun lantas lanjut membacakan doa lagi. Entah berapa kali saya membacakan doa. Saya hanya berpikir bahwa ketika saya meninggal nanti, saya ingin ada orang yang selalu, terus-menerus di samping saya, melantunkan doa. 

Menjelang subuh, lampu tiba-tiba padam. Saya tetap membacakan doa melalui ponsel, tak beranjak dari tempat saya semula. Orang yang datang untuk melayat pun belum ada, belum ada yang mengaji lagi. Di luar masih penuh ibu-ibu dan saudara laki-laki, duduk di bawah tenda.

Saya menangis. 

Yaa Rabb, Bagaimana saya ketika meninggal nanti? 

Apakah sama seperti ini? Jenazah bahkan belum dikubur, tetapi sudah merasakan gelap gulita, belum ada yang melayat lagi, sepi.

Saya masih terus melantunkan doa. Berharap ketika saya meninggal nanti, ketika lampu padam, akan ada orang di samping saya yang membacakan ayat suci, doa kepada saya. Bukan sunyi dan gelap yang harus saya terima, bahkan sebelum liang kubur menjadi rumah saya. 

Saya melantunkan doa dengan sedikit kencang, tenggorokan rasanya tercekat, menahan tangis. 

Saya punya sahabat, seperti saudara kandung. Apa saja kami ceritakan. Pernah dia bilang seperti ini:

“Nanti kalau lu nikah, trus gue gak dateng kira-kira lu sedih gak?”

Lalu, saya menjawab:

“Sedih sih, tapi gak apa-apa. Yang penting kalau gue meninggal, lu harus datang melayat, nemenin gue, nganter gue sampe kubur. Udah itu aja.”

Dengan entengnya, dia jawab:

“Iya, InsyaAllah ya, kalau gue gak meninggal duluan. Umurkan gak ada yang tau, kalau gue meninggal duluan, lu harus dateng juga, ya nememin gue, nganterin gue sampe kubur.”

Jujur, saya menangis. Kami sering membicarakan hal seperti ini. Saya masih ingat percakapan saya melalui whatsapp dengannya saat itu. Dia tiba-tiba bilang:

“Nanti kalau lu masuk surga, trus lu nyari gue gak ada, lu panggil gue ya.”

“Iya lah, masa gue gak mau kumpul sama lu di Surga. Tapi kalau lu yang masuk surga, trus gue gak ada, lu juga bakalan nyari gue kan? Manggil gue?"

“Iyalah.”

Benar ya, kalau kita sayang sama orang, kita pasti ingin sekali bagaimanapun caranya, kita bisa kumpul sama mereka di surga. Bagaimana caranya kita berkumpul sama orang tua kita, saudara kita, sahabat kita di surga? 


Ketika saya mengajak mama saya belajar, ngaji. Saya bilang seperti ini ke mama:

“Mah, aku banyak dosa ya ma? aku rasanya masih kotor aja ma.” Saya menangis, tidur di pangkuan Mama.

“Kamu kan sudah rajin sholat, ngaji, kenapa masih ngomong kayak gtu? Gausah berlebihan.”

“Aku takut Mah, Aku takut Allah gak Ridho sama aku.” 

Mama saya diam saja saat itu. Lalu saya bilang:

“Mah, belajar ngaji yuk, emang mama gak mau kita ketemu, kumpul lagi di surga?”

“Iyaa, mama kan sekarang tiap satu pengajian terus sama Bu Haji.”

Gantian, saya yang diam. Saya berharap Mama saya mengerti dengan hidup untuk mendapatkan ridhonya Allah. 

Ya Rabb, lindungilah kami, berikanlah kami selalu petunjuk-Mu, dekatkan lah kami dengan orang-orang yang shaleh, orang-orang yang Kau cintai, orang-orang yang memanfaatkan dunia hanya untuk mendapatkan Ridho-Mu. Aamiin.

Memang, tak berarti benar semua 
yang diajarkan dari lisan dan tulisan tanganku
Aku yang menasihati bisa jadi salah atas apa
yang aku sampaikan

Pun yang dinasihati bisa jadi salah atas apa yang dilakukan
Maka ketika kita bisa jadi salah dalam menjalankan ketaatan
Kenapa tak bisa kita mencari jalan tengah sebagai jawaban?

Aku hanya ingin merangkul dalam kebaikan
Membantu dengan membawa cahaya kebenaran
Kemudian menyongsong kita bersama
di atas jalan ketaatan

Aku hadir di sini
Tuk merangkul kau agar kembali
Ke jalan Rabb kita yang tengah menanti
Sang hamba yang dikasihi agar kembali
Dalam dekapan rindu karena imani
Maka, maukah kau kembali?




Xkwavers Content Creator @mayang.as

Aku percaya surga itu ada
Tapi, mengapa aku malah mendambakan nikmat dunia,
yang tak ada apa-apanya dibandingkan surga?
Surga begitu indah di dalamnya
Begitu banyak orang yang mendambakannya
Bahkan mati-matian berjuang untuk mendapatkannya

Tapi, mengapa aku tertarik dengan mereka 
yang mengejar dunia?
Bukankah seharusnya aku berusaha kembali ke baris
pejuang surga?
Mengapa aku seolah lupa kalau dunia ini hanya
sementara?

Hey, aku ini hidup untuk siapa?
Tujuan hidupku apa?
Mengapa nikmat dunia begitu
membutakan mata?

Wahai diri,
Sadarlah, dan kembalilah pada tujuan
awalmu
Tahan dan buang jauh rasa irimu
Ingat perjuanganmu sampai ke titik ini
Banyak perjuangan yang kau lalui
Ingat Janji Allah
Dan kembalilah ke barisan pejuang surga
Mereka menantimu di sana




@marza_au Xkwavers Content Creator


Kali ini saya akan membahas tentang alasan saya kenapa sih saya sangat suka dengan sosok Tere Liye? Saya bukan anak remaja yang suka dengan Tere Liye hanya karena kata-katanya yang puitis di setiap bukunya.

Awal Mula Baca Buku Beliau

Awalnya saya tidak tahu dengan Tere Liye. Saya ingat sekali, novel pertama yang saya beli ketika saya bisa menghasilkan uang adalah novel Tere Liye yang berjudul 'Kau, Aku dan Sepucuk Angpao Merah. Dari jaman SMP, saya memang hobi membaca tetapi tidak pernah membeli novel. Kebetulan saat SMP, banyak sekali teman saya yang mempunyai hobi membaca dan dari keluarga berada, sehingga koleksi buku, novel, dan majalahnya bisa saya pinjam dengan gratis.

Kembali ke topik awal, saya membeli buku 'Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah hanya karena beranggapan bahwa novelnya merupakan novel roman picisan. Tetapi saya salah besar. Di dalam novel tersebut bahkan tidak ada adegan pacarannya. Saya sempat malas dan tidak tertarik untuk lanjut membacanya. Karena waktu itu saya kos, dan suka susah tidur, sehingga mau tidak mau saya habiskan membaca buku itu. Di pertengahan bab, justru saya malah makin tertarik.

Jadilah setiap bulan saya selalu membeli novel-novel karangan beliau. Berlanjut dengan novel Negeri Para Bedebah, Negeri di Ujung Tanduk, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Bumi (Masih cover edisi cetakan pertama), Bulan, Matahari, Bintang, Pulang, Pergi. Hingga sekarang, setelah begitu canggih teknologi memudahkan kita membaca buku dengan gratis tanpa harus membeli buku cetak. Saya beli ebook, download PDF, atau membaca di aplikasi Ipusnas (perpustakaan nasional online). Total buku karangan beliau yang sudah saya baca saat ini adalah 17 judul. Masih banyak sih karya beliau yang belum saya baca.

Siapa sih Sosok Tere Liye

Karena semakin suka dengan setiap tulisan beliau yang saya baca, saya jadi penasaran, siapa sih Tere Liye ini? Searching di google, ketemulah nama aslinya, Darwis dan ternyata beliau juga orang Sumatera. Mampirlah saya ke fanpagenya Tere Liye di Facebook. Makin kagum lah saya dengan semua tulisan dan opininya di laman facebook tersebut.

Kenapa harus Tere Liye?

a. Tere Liye penulis yang merdeka

Mungkin bagi kalian yang beranggapan bahwa beliau ah biasa saja, ah tidak bisa dibandingkan dengan J.K Rowling atau Jane Austen. Menurut saya, dia lah satu-satunya penulis yang merdeka.
Dia dengan tegas dan lugas menyuarakan pendapatnya tentang kebobrokan pemerintah, murni tidak ada keterikatan dengan oknum atau kubu tertentu.

b. Selalu ada pelajaran hidup di setiap bukunya
     Setiap buku beliau yang saya baca, selalu ada pelajaran yang dapat kita ambil. Saya belajar banyak dan paham bahwa tulisan yang baik bukan hanya bersifat menghibur, tetapi juga insipratif. Awalnya yang hanya tertarik dengan novel roman, fantasi, sekarang justru kurang tertarik dengan novel yg romance total atau teenlit sekali.

c. Penulis yang visioner
     Saya merasa, setiap tulisan yang beliau buat, ada visi dibalik tulisannya. Misalnya ketika beliau membuat novel ayahku bukan pembohong, beliau mendekatkan pembaca untuk lebih menghargai dan mencintai Ayahnya, atau setelah membaca Hafalan sholat delisa, pembaca jadi lebih sadar untuk menyayangi ibunya, dan menerima takdir. Kau sepucuk angpao merah untuk belajar menghargai perempuan, belajar untuk ikhlas dan jujur dalam menjalani, hidup, dan lain sebagainya. Beliau seperti punya tujuan tersendiri, seperti "saya ingin membuat tulisan yang ketika dibaca, mereka akan bla bla bla." Atau, "Saya belum pernah membuat tulisan genre ini, saya ingin membuat genre ini tapi sekaligus bermanfaat untuk .... agar pembaca..."

Beliau juga penulis yang sangat produktif, setiap tahun mengeluarkan buku, dan sangat prihatin terhadap pendidikan moral bangsa, khususnya generasi sekarang, dan sangat kritis terhadap masalah yang menimpa bangsa, baik dari segi pendidikan, politik, ekonomi, sosial. Banyak sudut pandang yang beliau ambil, dalam menyuarakan kritik yang bersifat objektif.
Sampai sekarang, saya selalu menantikan tiap postingan beliau di fanpagenya.

Saya berharap, seperti beliau, setiap tulisan yang saya buat, bisa menjadi sarana dalam menebar benih kebaikan di tengah bobroknya moral bangsa.






Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I'm one of those who believe that there is no friend as loyal as a book.

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  Juli (1)
      • Indonesia Selama Pandemi dalam Pertunjukkan Teater...
  • ►  2020 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Juli (3)
  • ►  2018 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2017 (2)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates